Quantum Computing dan Ancaman Keamanan Sibernetika
Selama ini data pengguna jasa siber dan internet terlindung oleh encryption. Percakapan whatsapp, isi email, password sosial media, PIN ATM, dan lain sebagainya, kesemuanya masih terlindung oleh enkripsi, saat ini. Namun perkembangan teknologi terkini, selain mendatangkan banyak keuntungan, juga menghasilkan ancaman tersendiri. salah satu hal yang tengah hangat dibincangkan para ahli keamanan siber adalah tentang Quantum Computing.
Bahwa kemampuan komputasi kuantum yang disebut Qubits, dapat menembus metode enkripsi yang kini hanya berupa kunci 6 hingga 8 digit, terurai hanya dalam hitungan detik. Konon, metode keamanan siber yang selevel dengan komputasi kuantum, yang membuat data tersimpan secara aman dan sangat rahasia dan tidak bisa ditembus bahkan oleh komputasi kuantum ini, telah ada sejak beberapa tahun yang lalu.
teknologi ini dinamakan Quantum Key Distribution (QKD). Teknologi ini tengah dikembangkan oleh beberapa negara diantaranya oleh China, yang telah berinvestasi besar dengan menggunakan jaringan serat optik bawah tanah dan gabungan jaringan satelit dengan instalasi bawah tanah. Demikian juga dengan Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Uni Eropa, yang juga melakukan riset QKD.
Namun, lembaga keamanan Amerika Serikat NSA (National Security Agency) tidak merekomendasikan penggunaan QKD karena memiliki sejumlah keterbatasan yaitu;
- QKD tidak mengotentikasi sumber transmisi
- QKD membutuhkan perangkat keras khusus
- QKD meningkatkan biaya infrastruktur dan meningkatkan ancaman resiko internal
- keamanan dan validasi QKD memberikan tantangan tersendiri karena berat dan rumit bagi data, berbeda dengan kebutuhan pengguna internet yang membutuhkan kecepatan tinggi
- QKD meningkatkan resiko penolakan penggunaan jaringan siber
Harvard Kennedy School Belfer Center, dalam tulisan yang dibuat oleh Michaella Lee pada bulan Juli 2021 menyebutkan bahwa sistem yang dibuat dengan menggunakan level keamanan tingkat komputasi kuantum atau QKD ini akan terlihat rapuh, lambat, dan sangat mahal. Ditambah lagi, banyak potensi resiko dan kerentanan lainnya dalam rangkaian rantai keamanan yang tidak dapat diatasi oleh kriptografi kuantum. Lebih sering, hacker atau peretas berusaha untuk menembus keamanan siber dengan mendeteksi jaringan perifer atau jaringan sekitar sistem yang rentan, dan tidak menyerang sistem secara langsung. Bahkan bila sebuah kunci telah aman dengan QKD, maka yang harus diawasi selanjutnya masih banyak lagi seperti jaringan routers, repeaters, dan hubs, yang kesemuanya tetap menghadirkan poin kegentingan.
Comments
Post a Comment